Search

Sejarah dan Kisah Dibalik Wedding

Kue pengantin modern telah berkembang dari beberapa tradisi etnis yang berbeda. Salah satu tradisi pertama dimulai di Roma Kuno, yang mana roti dipecah di atas kepala pengantin wanita untuk membawa keberuntungan bagi pasangan tersebut.



Awalnya, kue pengantin merupakan barang mewah dan tanda perayaan dan status sosial. Semakin besar kuenya, semakin tinggi status sosialnya. Secara tradisional, kue pernikahan di Inggris dan Amerika adalah kue buah, yang diatasnya diberi marzipan dan lapisan gula dengan tingkatan.


Setiap bahan dan cara memiliki arti masing-masing. Seperti memotong kue juga bagian penting dari resepsi. Lapisan gula putih yang menjadi simbol uang dan kepentingan sosial di zaman Victoria, yang mana kue putih menjadi favorit pada saat itu. Namun, saat ini banyak rasa dan konfigurasi yang sudah tersedia selain kue tradisional yang serba putih.


Sementara di Inggris Abad Pertengahan, kue ditumpuk setinggi mungkin untuk dicium oleh pengantin. Jika hal tersebut sukses berarti pengantin dijamin hidup sejahtera bersama. Maka dari itu croquembouche dibuat. Mitos di balik kue inilah yang menceritakan bagaimana seorang koki pastry, mengunjungi Inggris Abad Pertengahan, yang melihat tradisi mereka menumpuk roti manis di antara pengantin, lalu mereka coba cium tanpa menjatuhkannya.


Pada tahun 1703, Thomas Rich, seorang magang pembuat roti dari Ludgate Hill, jatuh cinta dengan putri majikannya dan memintanya untuk menikah dengannya. Dia ingin membuat kue mewah, yang akhirnya beliau menggambar St. Bride’s Church untuk mendapatkan inspirasi, di Fleet Street, London.


Baca juga: 5 Tips Beruntung Memesan Custom Cake


Baca juga: Wisata Baru di Sumut The Le Hu Garden


Baca juga: Varian Blackforest Jofie yang Lembut & Topping Menggoda!


Sejarah Selanjutnya


Secara tradisional pengantin wanita akan menempatkan cincin di bagian kue pasangan untuk melambangkan penerimaan lamaran. Selama pertengahan abad ke-17 hingga awal abad ke-19, “pai pengantin” disajikan di sebagian besar pernikahan. Dan kue pengantin merupakan kue prem atau kue buah.


Setiap kue juga memiliki arti masing-masing, seperti kue tingkat dengan bunga lily calla menjadi simbol kesucian, hingga kue buah merupakan tanda kesuburan dan kemakmuran yang akan membantu pengantin mendapatkan popularitas karena yang sudah menikah ingin memiliki banyak anak.


Pada abad ke-17, dua kue dibuat untuk sepasang pengantin, satu untuk pengantin pria dan kue satunya untuk pengantin wanita yang dijadikan sebagai kue utama dalam acara pernikahan. Biasanya kue pengantin pria disajikan dengan berwarna lebih gelap, dan berukuran lebih kecil dari kue pengantin wanita.


Umumnya, kue pengantin terdiri dari kue pound yang simple dengan lapisan gula putih karena putih menjadi simbol keperawanan dan kemurnian.


Pada awal abad ke-19, karena kue menjadi populer, gula menjadi lebih mudah didapatkan. Dan gula halus dan lebih putih masih sangat mahal. Maka dari itu, hanya keluarga kaya yang bisa memiliki frosting putih yang sangat murni. Tampilan tersebut juga menunjukkan kekayaan dan status sosial keluarga. Seperti Ratu Victoria menggunakan lapisan gula putih pada kuenya, yang mana kue itu disebut sebagai lapisan gula kerajaan.


Seperti yang kita ketahui saat ini, kue pengantin modern berasal dari pernikahan Pangeran Leopold, Duke of Albany tahun 1882 dan kue pernikahan pertama yang benar-benar bisa dimakan. Buruknya, pilar yang digunakan untuk kue tingkat adalah sapu yang dilapisi gula. Karena tingkatan kue mewakili kemakmuran dan merupakan simbol status karena hanya keluarga kaya yang mampu memasukkan mereka ke dalam kue.


Dan kue pengantin Pangeran Leopold dibuat dalam lapisan gula yang sangat padat. Saat lapisan gula mengeras, kue bisa ditumpuk. Hal itu menjadi kreasi untuk kue pernikahan pada saat itu. Kue pengantin modern juga masih menggunakan cara tersebut, dengan tambahan penyangga seperti dowels yang tertanam di kue untuk membantu beban terutama kue yang berukuran lebih besar.


Kue pengantin manis yang paling awal dikenal sebagai kue Banbury, yang menjadi populer pada tahun 1955. Kue Banbury sendiri merupakan kue pastry datar yang dibumbui dengan isi kismis yang mirip dengan Eccles, walaupun bentuknya lebih lonjong. Pertama kali kue Banbury dibuat oleh Edward Welchman yang tokonya berada di Persons Street.


Umumnya resep tersebut berbeda dengan kue Banbury modern, seperti ukuran dan sifat kuenya. Warna putih sudah menjadi tradisi pada upacara pernikahan sejak era Victoria saat Ratu Victoria memilih untuk mengenakan gaun pengantin putih pada pernikahannya dengan Pangeran Albert saat tahun 1840.


Awalnya kue juga dibagikan kepada para tamu hanya oleh pengantin wanita karena memakan kue itu akan menjamin kesuburan. Ketika pernikahan tumbuh dan jumlah tamu meningkat, tugas ini menjadi usaha patungan, pengantin pria juga perlu membantu memotong kue dan membagikannya kepada tamu. Begitu tradisi ini dimulai, pengantin akan berbagi sepotong kue sebelum membagikannya kepada para tamu untuk melambangkan persatuan mereka dan saling berjanji untuk selamanya menyediakan satu sama lain.


Begitulah sejarah kue pengantin yang bisa dimanfaatkan dan menjadi referensi mengenai kue pengantin yang Jofiers butuhkan. Dan masih banyak lagi inspirasi bentuk kue pernikahan lainnya yang mungkin bisa Jofiers kembangkan dan kreasikan di Jofie. Selamat mencoba!


#jofiebakery #sejarahweddingcake #weddingcakesimple #weddingcake

60 views0 comments